Selasa, 04 Oktober 2016

Horror Story : Monster Dalam Mimpiku

Tittle   : Monster Dalam Mimpiku
Rating : General
Author : (saya sendiri)


.
.

~~
Malam ini aku bermimpi buruk, bermimpi tentang makluk menyeramkan yang tiba-tiba datang dari bawah tempat tidurku. Ibuku pernah bilang padaku saat kecil dulu, jika aku tidak mencuci kaki dan wajahku sebelum tidur, maka akan ada monster yang keluar dari kolong tempat tidurku untuk menangkapku. Semalam aku memang lupa mencuci kakiku, itu karena aku lelah setelah pulang kuliah. Akhir-akhir ini selalu ada tugas yang membuatku harus tetap berada di kampus sampai larut malam dan pergi pagi-pagi sekali, dan itu membuatku melupakan kebiasaanku mencuci kaki dan wajah sebelum tidur saat hariku usai.
Pagi ini, aku melakukan aktivitasku seperti biasa. Berangkat saat matahari belum sepenuhnya terbit, kelasku sebenarnya dimulai saat siang hari, tapi ada sesuatu yang masih harus kukerjakan.
“Hey!”
Seseorang menepuk bahuku, aku menolehkan kepalaku. Kutatap orang tersebut dari atas kebawah, kemudian keatas kembali. Orang itu menatap wajahku dengan wajah yang… aneh.
“Ada apa? Kau terlihat lesu.”
Aku menghela nafas dalam, memijat tengkukku yang terasa pegal. “Aku tidak bisa tidur semalam.” Ucapku sambil merenggangkan leher. “Aku bermimpi buruk.” Lanjutku.
“Hah? Apa kau habis menonton film horror?”
“Tidak, tapi aku lupa mencuci kaki dan wajahku.”
Sebuah mobil angkutan umum berhenti di depanku dan temanku ( sebut saja begitu ), kamipun menaiki kendaraan tersebut dan duduk di kursi paling belakang.
“Aku pernah dengar itu, soal monster di bawah tempat tidur.” Temanku menggangguk.
Aku menghela nafasku, menatap keluar jendela untuk menghilangkan rasa penatku. “Itu hanya cerita untuk anak kecil.” Ucapku.
“Yah, benar.”
Aku terus menatap keluar jendela, sedangkan temanku terus bersenandung kecil di sebelahku, seperti biasa. Lagi-lagi aku menghela nafasku, rasa penatku tidak menghilang sedikitpun. Sesekali aku memejamkan mataku, membuat kepalaku terantuk-antuk ke segala arah. Aku ingin bolos hari ini, tapi sebentar lagi ada ujian semester.
“Ah iya, soal tugas kemarin. Apa kau sudah mengerti?” Tanya temanku secara tiba-tiba.
“Aku sama sekali belum mengerjakan.” Jawabku masih berusaha membenarkan posisi kepalaku.
Temanku kembali bersenandung kecil, tidak ada pertanyaan yang terlontar lagi hingga kami sampai ke kampus. Aku dan temanku menuruni angkutan umum tersebut, menatap sekelilingku. Masih pagi, tapi sudah seramai ini. Ah, sebenarnya itu biasa karena sekarang kami sedang mendekati akhir semester.
“Hoam.. dimana dia?” tanyaku sambil mengusap mataku.
“Tidak tahu, coba hubungi.”
Aku mengambil ponselku dan segera menghubungi orang terakhir dari kelompokku tersebut, terdengar suara dengungan tanda telepon tersambung, dan tak berapa lama terdengar suara.
‘Halo?’ ucap seseorang di sebrang telepon.
“Halo, sudah ada dimana?” tanyaku.
‘Ah.. maaf, aku tidak hadir hari ini. Nenekku sakit, jadi aku harus menjenguknya.’
“Lalu bagaimana dengan tugas kita?” aku sedikit terkejut.
‘Maaf, aku tidak bisa datang. Ah, tolong cantumkan namaku juga ya.’
“Baiklah, baiklah.” Aku menghela nafasku.
‘Terima kasih, tut…’
Sambungan telepon terputus, aku memberi tahu teman yang ada di sebelahku mengenai apa yang aku dengar dan dia menyetujuinya. Akhirnya kami mengerjakan tugas tersebut tanpa temanku yang katanya sedang menjenguk neneknya.
Beberapa lama, tugas yang harusnya di kerjakan berkelompok selesai. Aku mengumpulkan tugasku kepada pengurus pembantu dosen mata kuliahku, tak lupa mencantumkan nama temanku yang tidak hadir tersebut.
Hari berlalu, matahari mulai terbenam dan malam semakin larut. Lagi-lagi aku pulang larut malam, aku ingin pulang dengan cepat dan langsung tidur. Tubuhku suda berada di ambang batas, aku harap bisa tidur nyenyak malam ini.
“Hey, mau pulang bersama?” Tanya temanku yang sejak pagi bersamaku.
“Ya, tentu.”
Aku berjalan di dalam gelap, melewati lorong kampus yang sampai saat ini masih terdapat beberapa orang lalu lalang. Aku berjalan keluar gerbang kampus dan menunggu mobil angkutan umum, temanku juga melakukan hal yang sama. Sekitar tiga puluh menit atau lebih kami menunggu, akhirnya sebuah mobil angkutan berhenti di depan kami. Kami memasuki mobil tersebut, mobil itu sepi penumpang, hanya beberapa mahasiswa kampus saja yang naik.
“Hm.. soal pengurus tadi-”
“Tidak perlu dipikirkan.” Ucap temanku memotong kalimatku.
Aku mengangguk, dan manghadap keluar jendela. Aku menopang kepalaku yang berat dengan tangan kananku. Sepertinya tidak ada yang melihatku terantuk-antuk, karena kami lagi-lagi duduk di kursi belakang. Mataku sudah semakin berat untuk di buka, aku memejamkan mataku perlahan.
Tiba-tiba seseorang menepuk bahuku, dia temanku yang sejak tadi bersamaku. Katanya kami sudah sampai, aku menatap keluar jendela dan ternyata kami memang sudah sampai. Aku dan temanku menuruni angkutan tersebut, kami berpisah saat sampai di depan gerbang rumahku. Aku berjalan memasuki rumahku, membuka pintu kamarku dan merebahkan tubuhku di atas kasur.
Kring.. Kriing..
Suara dering ponselku menggema di dalam kamarku, aku mendekatkan ponselku ke telinga dan terdengar suara.
‘Halo?’
“Ah, itu kau? Bagaimana kondisi nenekmu?” tanyaku.
‘Sudah mulai membaik, mungkin besok aku akan hadir di kelas.’
“Bagus jika begitu.”
‘Maaf sudah merepotkanmu, aku sudah dengar dari pengurus mata kuliah.’
“Tak masalah, lagi pula kau sedang kesulitan.”
‘Yah.. besok kita akan kerjakan tugas berdua, jadi kau tak perlu kerjakan sendiri lagi.’
“Apa? Kita bertiga.” Aku membulatkan mataku. “Sial aku lupa.”
‘Kau tertidur? Sejak awal kelompok kita hanya dua orang, bagaimana bisa jadi tiga.’
Aku mematikan ponselku, menutup telingaku dan tidak mau mendengar apapun. Tidak bisa, suara itu semakin dekat, semakin dekat, lebih dekat, sangat dekat. Aku memejamkan mataku, sebuah tangan menepuk bahuku. Bulu kudukku sontak berdiri, aku tidak mau dengar, suara senandung itu. Tidak..
-Nanana… nanana…
-Tidur lah, tidur.. oh anakku sayang..
-Kalau tidak tidur… ku bawa pergi…
Makhluk itu mendekat kan sesuatu benda yang berbulu ke sebelah kiri kepalaku. “Ayo kita kerjakan tugas bersama lagi.” Bisiknya.

-END-





Sekian, saya buat cerita horror ini.. semoga menghibur ya.. jangan lupa tinggalkan jejak
terima kasih...

untuk anime lover dan kawan-kawan lainnya, baca juga:

sampai jumpa di pertemuan selanjutnya... ^_^)/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar